Bila kata orang hidupku suram, tapi disinilah ku temukan cahaya terang. Bila kata orang hidupku penuh kepahitan, tapi disinilah ku temukan sejatinya manisnya kebahagiaan.
Alkisah... Beginilah percakapan seorang anak dengan ibunya...
Anak: Ibu, kenapa harus banyak aturan seperti ini? Lihatlah hasil test psikologiku. Tertuliskan bahwa orangtua over protective. Aku malu, Ibu. Aku malu dikatakan anak mama. Kapan aku bisa seperti mereka?
Ibu: Anakku, Ibu hanya ingin menjagamu. Ibu tidak ingin engkau celaka atau mendapat hal yang buruk.
Anak: Tapi Ibu…aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar. Aku juga butuh kebebasan. Aku ingin merasakan bermain seperti teman-temanku. Pulang malam pun tak mengapa. Pergi kemanapun juga tak mengapa.
Ibu: Anakku…Ibu tau apa yang engkau rasakan. Tapi lihatlah, engkau seorang wanita. Apa pantas seorang wanita sering keluar apalagi pulang larut malam setiap hari? Malu lah dengan tetangga disini. Ibu tidak ingin engkau dikecam yang tidak-tidak oleh mereka.
Anak: Kenapa masih jadul sih pemikirannya? Orang dulu jangan disamakan dengan orang jaman sekarang. Sekarang jauh beda dengan yang dulu, Bu. Boleh lah menjaga anak, tapi tidak dikekang seperti ini.
Ibu: Ibu tau, Nak. Ibu pun tidak akan rela merenggut kebahagiaanmu. Ibu hanya ingin engkau bahagia. Bila engkau tak bahagia dengan cara ini, baiklah…mulai sekarang Ibu ikut maumu. Terserah apa katamu. Ibu hanya pesan agar engkau selalu jaga dirimu baik-baik.
Setelah itu, kehidupan berjalan dengan sangat cepat. Mungkin sekarang telah bebas seperti burung terbang di angkasa nan biru. Namun, seakan terbang sendirian itu tidak mengenakkan. Rindu akan rumah awal. Rindu akan suasana seperti dulu. Kesalahan demi kesalahan terus menjadi agenda. Terlepasnya anak burung yang masih perlu penjagaan, menjadikan sang burung hilang arah. Entah ingin dibawa kemana kehidupan ini. Hingga kejatuhan menimpanya. Ketika sayapnya patah sebelah akibat seorang pemburu. Namun, apa yang terjadi? Dengan sigap induk burung memeluk anaknya serta dirawatnya anak burungnya tersebut hingga kembalilah sehat anaknya itu.
Maafkan anakmu, Ibu…. Maafkan anakmu yang tidak taat dan melawanmu :'(
Kawan…
Agama itu berasal dari kata “a” yang artinya tidak, dan “gama” yang artinya ngawur. Jadi, agama itu tidak ngawur. Agama memiliki aturan. Aturan itu bukan sebagai kekangan. Namun, dari situlah engkau dididik dan dibimbing dengan aturanNYA yang menyelamatkanmu dari syetan dan nafsu yang menghancurkan.
Janganlah kita menjadi sombong, mengaku-aku sudah besar namun sejatinya masih tidak bisa mengrurus diri sendiri. Orang dewasa itu adalah orang yang dekat dengan Tuhannya.
Janganlah pula engkau melawan Ibumu hanya sekedar meminta kebebasan dunia. Sesungguhnya Ibumu menjagamu dengan aturan yang benar. Ia lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi anaknya. Sedangkan kita sebagai anak tidak tau apa-apa. Kemuan kita hanya terdorong dari adanya nafsu.
Sahabat…
Sungguh…apabila engkau patuh dan taat kepada orangtua, maka InsyaAllaah Allaah pun akan meridhoi-mu dalam setiap jalan kehidupanmu. Apalagi selain ridhoNYA yang jauh lebih berharga? Tidak ada, kawan.
Percayalah…segala aturan itu hanya untuk menyelamatkanmu. Karena tidak selamanya penjara itu membuat penat hati. Disinilah ada yang namanya jeruji emas, yang di dalamnya terkandung kebaikanNYA. Kebaikan yang mendekatkan kita kepadaNYA. Bukan seperti layang-layang tanpa tali pegangan. Bebas melayang, namun terombang-ambing tak ada arah tujuan.
Selalulah berprasangka baik kepadaNYA dalam segala hal :)
Tag :
KISAH

0 Komentar untuk "Jeruji Emas"